Kamis, 27 November 2008

Nenekku Penguasa Televisi

Cerpen Anton Bae

SEEKOR kupu-kupu jelmaan seorang lelaki terbang di halaman di sebuah rumah mewah. Dia mengibaskan sayapnya begitu kencang ke seorang dukun perempuan berjubah hitam. Ada sinar merah terlihat keluar dari kepakan sayapnya. Bunyinya mendesing-desing. Kupu-kupu itu ingin menyelamatkan gadis, yang merupakan kakak kandungnya yang menghilang selama satu minggu, kini tergeletak pingsan di halaman rumah itu. Hingga sepuluh menit berlalu, pertarungan itu akhirnya dimenangkan oleh kupu-kupu. Dukun perempuan itu mati, mayatnya berubah menjadi seekor babi.

Nenekku mengangguk-anggukkan kepala. Di atas kursi yang tidak jauh dari televisi itu aku meliriknya. Saat ibuku datang dari dapur, dia menjelaskan film yang ditontonnya. Tetapi matanya masih mengarah ke televisi. Dia bicara bahwasanya kupu-kupu itu menang, dia berhasil menyelamatkan pacarnya. Ibuku menggeleng-geleng kepala. Dia menjawab, sambil berteriak di dekat telinga nenek. "Iya!"

Nenekku yang tuli itu senang. Bibirnya tersungging. Dia meletakkan remote televisi di atas kasur yang sengaja diletakkan seandainya dia ketiduran ketika sedang menonton. Setelah itu, dia berjalan ke kamar mandi, mungkin buang air kecil.
Umur nenek menginjak delapan puluh tujuh tahun. Dia memakai kacamata plus. Giginya palsu. Kakinya tidak mampu lagi berjalan normal. Dia berjalan mengesot, dengan mengangkat tubuhnya sendiri perlahan-lahan dengan kedua tangannya. Kata orang itu adalah penyakit tua. Sayangnya, bila berjalan, nenek tidak mau dibantu, dia akan marah-marah. Mulutnya akan meracau. Alasannya, dia tidak mau merepotkan kami. Apalagi pakai kursi roda, rumit, dan mengganggu orang lain.

Memang, sejak ditinggal kakek, nenek selalu berjuang sendiri. Dia tidak mau dibantu orang lain. Dia membesarkan dan menyekolahkan tujuh orang anaknya, dengan tenaganya sendiri, dengan berjualan cabe di pasar yang kini telah digusur untuk pembangunan rumah-rumah toko dan hotel di dusun kami. Tapi, sejak penggusuran itu, nenek tidak lagi berjualan. Ditambahlagi ibu dan saudara-saudaranya juga sudah mampu menghidupi dirinya sendiri. Bahkan, ibu juga telah mampu untuk mengurus kehidupan nenek.

Sementara kakek lima puluh tiga tahun telah meninggalkan nenek. Dia pejuang veteran yang meninggal karena sakit jantung. Bila akhir bulan, dibantu ibuku, nenek akan pulang ke dusun hanya untuk mengambil gaji kakek. Biasanya, di atas kasurnya, di balik pintu kamar, diam-diam nenek akan menghitung pelan-pelan gaji kakek. Suatu hari pernah nenek berkata kepadaku dengan nada memelas. "Kakek cuma meninggalkan gaji sebesar delapan ratus ribu rupiah untuk nenek."

Sejujurnya, aku tidak pernah peduli dengan urusan gaji per bulan kakek, karena bagiku uang delapan ratus ribu rupiah sudah cukup besar untuk kehidupan nenek sendiri. Tapi bila terlalu jauh dipikirkan, Bagaimana nenek bisa menyekolahkan dan menghidupi tujuh orang anaknya?

"Ini salah kakek, ingin jadi pejuang Indonesia. Harusnya kakek menjadi pedagang atau menjadi petani. Minimal, mungkin saat ini kita telah memiliki ribuan hektar sawah atau kebun. Atau usaha yang besar."

"Kakek memang tidak berpikir soal ekonomi. Dia selalu mengataskan namakan pejuangan," jawab nenek.
"Inilah hasil dari nasionalisme kakek. Kehidupan anak-anak kakek dan nenek, akhirnya hanya sebatas menjadi pegawai negeri biasa, tentara, dan pegawai swasta."

Ketika mendengar jawaban itu, nenek langsung mengumpat. Dia melemparkan bantal guling melepaskan kemarahannya. Tetapi aku sudah berlari menjauhinya.

Itu cerita dulu ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sekarang aku sudah sarjana yang berkeinginan menjadi seorang pejabat di Dewan Perwakilan Rakyat.

***
TIBA-tiba nenek menangis di depan televisi. Suaranya menyebar kemana-mana. Aku tidak tahan. Sebagai sarjana aku tidak pernah mempelajari bagaimana rumus dan teori untuk meredakan tangis seorang nenek-nenek. Apalagi menangis di hadapan televisi. Tidak ada cerita penggusuran, bencana alam, korupsi, atau apalah yang merumitkan. Hanya sebuah cerita keluarga; seorang perempuan yang melamun di tengah pasar akibat suaminya selingkuh.

Tapi nenek kenapa menangis?

Air matanya turun, seolah drama itu pernah menjadi bagian hidupnya. Seolah telinganya yang tuli itu, mampu menerjemahkan tiap-tiap kata yang bergerak cepat, dan tidak berulang-ulang itu.

Nenek biasanya terlalu mendramatisir. Seakan-akan dia sedang mengajak kami untuk menonton bersamanya, dan dia akan menjelaskan cerita yang seringkali salah pengertian. Dia akan membiarkan kami terpaku, lalu duduk bersamanya, memijit-mijit kakinya, sambil bercerita bahwa dia ingin menyusul kakek ke surga.

Tapi hari ini tidak seperti hari-hari kemarin. Sekejap saja tingkah laku seseorang dapat berubah. Sesuatu yang tidak ada menjadi ada, yang mustahil menjadi tidak mustahil, dan yang tidak bermasalah menjadi bermasalah.
Nenek tidak henti-henti menangis, membuat kaca matanya berlinang. Dia tidak bicara kakek. Dia tidak bicara apa-apa. Hanya perempuan di televisi itu. Dia bicara nasib. Dia bicara kegundahan perempuan di televisi itu. Entahlah.

Ibu yang sedang menyetrika pakaian di dalam kamar mendekatinya. Ibu tersenyum mengedipkan mata ke arah adikku. Tapi nenek terlihat cuek. Dia mengangkat tubuhnya. Meletakkan remote televisi yang selalu dia peluk-peluk itu ke atas kasur. Dia mengesot menuju kamarnya. Dia merenung. Dia membuat seisi rumah bingung.

Di dalam kamar, ibu dan adik perempuanku mendekatinya. Pertanyaan demi pertanyaan dikeluarkan sebagai tanda perhatian. Nenek menjawabnya dengan datar, membuat ibu dan adikku kesal, menggerutu keluar kamar.
Aku bertanya, ibu tidak menjawab. Dia malah menyuruhku bertanya sendiri dengan nenek. Aku pun mengikutinya.

"Ada apa, nek?"

Perempuan tua itu melepaskan kacamatanya. Dia melihat ke arahku. "Seandainya nenek bisa menjadi kupu-kupu yang bisa terbang, menyelamatkan perempuan yang jualan di pasar itu," katanya.

Lampung, 2008.

Read more...

Rabu, 29 Oktober 2008

Syair Ringgok-Ringgok

Oleh Anton Bae

SYAIR ringgok-ringgok merupakan peninggalan leluhur (puyang) masyarakat Komering, Sumatera Selatan, yang biasanya dinyanyikan dalam acara perkawinan (sebelum atau sesudah akad nikah), dimana para tetangga dan keluarga besar yang punya hajatan sedang berkumpul atau bertatap-tatap muka di dalam rumah, baik saat memasak di dapur, atau bercerita sebelum tidur di kamar, atau pada saat bercerita di ruang tamu.
Tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun itu, biasanya, didendangkan di tempat keluarga yang mengadakan hajatan perkawinan.
Bila dikategorikan sebagai bagian dari sastra tutur yang ada di Sumatera Selatan, syair ringgok-ringgok memiliki keunikan tersendiri, yaitu didendangkan secara bergantian. Ketika si penutur pertama merasa lelah, akan diganti oleh penutur berikutnya, begitu seterusnya tanpa ada rencana terlebih dahulu. Hampir sama dengan gayung bersambut dalam pantun, tetapi berbeda isi dan cara penyampaian.

Masih diperdebatan pengertian ringgok-ringgok tersebut. Ada yang mengatakan berasal dari bahasa Komering yaitu ghringgok yang artinya bergerak.

Pendapat itu bisa dibenarkan, karena biasanya dalam mendendangkan syair tersebut, si penutur dan si pendengar dalam posisi sedang duduk sambil memasak, atau sedang tidur (tidur ayam), atau sedang membersihkan rumah. Pada saat itu mereka dalam perasaan gembira, walaupun ada juga tangisan yang keluar dari keluarga yang mengadakan hajatan ketika mendengar syair tersebut, karena akan berpisah dengan saudara atau dengan anak kandungnya.

***

SEBENARNYA, apa yang ditawarkan dari syair yang mengalun seperti aliran Sungai Komering itu ---sungai yang bila musim hujan penuh dengan air, dan bila kemarau kering seperti padang pasir.

Syair itu mengandung unsur nasihat. Hanya saja pemilihan kata dan gaya bahasanya menggunakan bahasa satir. Biasanya, bila isinya berupa humor, maka akan terdengar tawa dan saling sahut-menyahut antar pendengar seakan mereka sedang menertawakan diri mereka. Sementara itu, apabila syair tersebut sedih, biasanya akan terjadi hujan air mata di dalam keluarga yang punya hajatan. Di sinilah letak keberhasilan syair tersebut, yaitu ketika ada respon dari si pendengar, baik tangis maupun tawa.

Dilihat dari isi dan cara penyampaian, ada tiga hal menarik dalam tradisi lisan itu. Pertama, syair itu diciptakan sesuai keadaan, dan biasanya langsung dikarang hari itu atau secara improvisasi oleh si yang menuturkan. Misalnya, penutur mengetahui bahwa acara pernikahan itu adalah perpisahan seorang ibu dengan anaknya yang akan menikah, yang dihibur adalah ibu. Atau mengenai adik yang menikah mendahului kakak perempuannya, yang dihibur adalah kakak. Misalnya jodohnya seharusnya si ini, kenapa dengan si itu. Si itu yang bakal dihibur atau bahkan disindir halus, agar dia berpikir jodoh itu ada di tangan Tuhan.

Salah satu contoh syair ringgok-ringgok dengan tema adik mendahului kakak (perempuan):

Dang da suya niai
Nyak haga kahwin mona
Redhoko nyak niai
Sambah sujudku munih

Jodohku ko wat rik kyai di hulu
Ku konalko rik niku dang niku maa pandai
Sija silindangku ju ko rik niku
Ghuai pelangkahku rik niai

Dang da niku miwang
Sodihmu sodihku munih.

(Janganlah kau marah ayuk/ mbak
Aku mau kawin dulu
Ridhokan aku
Sembah sujudku pula

Jodohku sudah ada, dengan kakak di ulu
Kukenalkan denganmu, jangan sampai tidak tahu
Ini selendang kuberikan padamu
Untuk pelangkahku dengan ayuk

Janganlah kau menangis
Sedihmu sedihku pula)

Kedua, syair ringgok-ringgok didendangkan tidak terpaku dimana tempat, kapan, dan alat apa yang digunakan. Baik di dapur pada saat memasak, di ruang tamu, di kamar, atau di halaman. Penutur sengaja mendendangkannya sebagai media hiburan, sebagai jeda atau pelepas sepi.

Ketiga, penutur syair tidak ditentukan siapa dan kapan dia mendendangkan. Biasanya, yang mendahului adalah orang tua yang mengerti (tidak dibedakan lelaki atau perempuan). Artinya, tradisi tersebut beranjak dari sebuah kesadaran, bukan atas perintah atau peraturan yang mengikat.

Terlepas dari semua itu, syair ringgok-ringgok adalah tradisi yang dipakai dalam adat Komering. Tradisi itu tidak akan digunakan di daerah lain. Walaupun yang punya hajatan adalah orang dari suku Komering, jika acara resepsi pernikahan tersebut di daerah lain, misalnya di daerah Pagaralam, tetap syair itu tidak akan dinyanyikan, karena ada perbedaan tradisi. Begitupun sebaliknya, bila acara diadakan di daerah Komering, maka syair itu akan dinyanyikan, sekalipun salah satu dari keluarga mempelai bukan dari suku Komering.

Banyak yang menarik dari tradisi perkawinan di daerah Komering, daerah yang dikenal dengan buah duku itu. Jika kita membukanya, seperti membaca koran, maka syair ringgok-ringgok hanya sebagian kecil dari tradisi Komering.[*]

Read more...

Minggu, 14 September 2008

Tidak Perlu Minyak . . !

Oleh ANTON BAE

SEBUAH penelitian mengungkapkan, “Lebih dari 500 juta mobil dan kendaraan umum kini memadati jalan-jalan dunia, 10 kali lipat dari jumlah yang ada pada tahun 1950. Dan menurut proyeksi terbaru, jumlah kendaraan di dunia akan berlipat dua dalam 40 tahun mendatang, sampai kira-kira satu miliar. Kebanyakan pertambahan ini akan terjadi di negara-negara berkembang, yang permintaan untuk mobilnya diperkirakan meningkat 200 persen di akhir abad ini.”

***

LEONARDO DA VINCI, pelukis terkenal Italia abad 15, mungkin akan tertawa ngakak andai dia masih hidup dan melihat kebutuhan masyarakat di era milineum ini adalah mobil, yaitu kendaraan yang dapat bergerak sendiri tanpa perlu tenaga hewan, salah satu impian Da Vinci yang tertuang dalam sebuah sketsa miliknya selain lukisan Monalisa. Kita juga perlu berterimakasih kepada penemu mobil pertama, Karl Benz, dengan mobil tiga rodanya yang dipatenkan pada 1886.

Untuk di Sumatera Selatan, mobil mulai dikenalkan sejak penjajahan Belanda. Namun, barulah kendaraan itu banyak dikeluarkan ketika Indonesia baru merdeka sekitar bulan Oktober 1945, terkait dengan agresi militer Belanda di Palembang. Jenis mobil yang dipakai saat itu adalah Jeep Willys.

Ketika Belanda kalah dan diperintahkan untuk menarik pasukannya di seluruh Indonesia Jeep Willys banyak ditinggalkan. Dari sinilah Jeep Willys, peninggalan militer tersebut diubah menjadi kendaraan angkutan dan transportasi. Pada era 1960-an sampai dengan 1980-an kendaraan ini sangat terkenal dan memenuhi jalanan di Palembang dan sekitarnya. Umumnya, masyarakat wong kito menyebutnya dengan ketek, karena bunyinya terdengar; tek-ketek-ketek-ketek

Karena dimakan usia atau tidak layak lagi untuk dipakai, tahun 1990an, penyebaran ketek yang mulanya diproduksi oleh Amerika Serikat itu (sebelum Perancis, Jepang dan Taiwan ) semakin sedikit. Masyarakat beralih ke angkutan umum yang terbaru dan lebih nyaman. Hingga bertahun-tahun berlalu, Palembang dipenuhi dengan bermacam kendaraan mobil baik jenis City Car, Sedan , MPW (Multi-Purpose Vehicle ), Utiliti vehicle, SUV (Sport Utility Vehicle), dan Jeep model terbaru.


Dari Sungai ke Darat

Maraknya permintaan mobil tentu mempunyai dampak besar dalam kehidupan di masyarakat di Sumatera Selatan. Tradisi sungai secara perlahan beralih ke darat. Rumah-rumah yang mulanya menghadap ke sungai, diputar membelakangi sungai. Ditambah lagi sejak pembangunan Jembatan Ampera di Palembang, kendaraan bermesin itu telah menjadi alat transportasi yang penting dan cepat, bahkan salah satu sumber mata pencaharian penduduk. Perahu pun dianggap tidak layak lagi, hanya sebagian orang-orang yang hidup dipinggir sungailah yang masih menggunakannya, dan orang-orang pendatang yang ingin berwisata.

Alhasil, belum sampai 1 abad Indonesia merdeka (1945-2008), Palembang berubah menjadi sebuah kota yang penuh asap, debu, dan kemacetan. Pelebaran jalan sudah menjadi anggaran rutin pemerintah daerah, fly over mulai ditegakkan, dan mobil-mobil dari yang jenis ringan dan berat terus-menerus dilahirkan, membuat jalan-jalan menjadi penuh lubang, sengak oleh polusi, dan sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Semua seolah tidak dapat dielakkan lagi. Sementara negara yang memproduksi mobil, sengaja menekan harga mobil bisa terjangkau oleh masyarakat luas, seperti impian Henry Ford (1908), pengusaha pertama yang memproduksi mobil untuk umum.

Uniknya, para sopir dan kenek angkutan umum, pacar saya, teman saya, dan sebagian pejabat pemerintahan, menganggap mobil untuk saat ini adalah kebutuhan sekunder bahkan ada pula yang menganggapnya kebutuhan primer, atau bukan lagi barang mewah. Alasan munculnya pendapat itu bermacam-macam, ada karena keperluan keluarga sebagai alat transportasi yang nyaman dan dapat menampung jumlah orang lebih dari empat, dibandingkan dengan kendaraan roda dua. Ada yang menganggap alat transportasi yang paling cepat di darat selain kereta api. Dan ada pula yang menganggap itu adalah style dalam pergaulan dan bisnis.

Tuntutan mereka melihat permasalahan yang ada, tidak banyak pada persoalan tentang polusi udara atau kesehatan, melainkan bagaimana mengatasi persoalan kemacetan, yaitu mengharapkan pemerintah harus menambah jumlah kapasitas ruas jalan. Tentunya, mereka lupa, letak permasalahan itu berdampak pula pada lingkungan masyarakat yang dikelilingi oleh rawa. Rawa mesti ditimbun. Jika rawa ditimbun, kemungkinan lainnya yaitu bertambahnya jumlah bangunan dan penduduk. Hingga kondisi terakhir yang ada, rawa-rawa sudah semakin sedikit, menyebabkan pula terjadinya banjir bila musim hujan.

Hal lainnya, yaitu produksi minyak Indonesia terus-menerus mengalami penurunan. Tingkat kejatuhan produksi ini serentak dengan meningkatnya kebutuhan akan konsumsi minyak, terutama perkembangan transportasi mobil dan motor. Tentulah ini juga berdampak pada kehidupan ekonomi masyarakat miskin.

Sungguh, sangat mengerikan apabila situasi seperti ini terus berlangsung. Dana abis persoalan makin bertambah. Sekiranya pemerintah setempat segera membuat kebijakan mengenai kendaraan. Ada kemungkinan, jika jumlah penduduk semakin banyak, maka jumlah kendaraan pun semakin banyak. Jika kendaraan semakin banyak, maka akan terjadi kemacetan, bertambahnya korban kecelakaan lalu lintas, jalan diperlebar, polusi udara, dan kenaikan harga BBM. Langkah pertama yang paling kongkrit tidak lain adalah membatasi jumlah kendaraan mobil pribadi, khususnya di pusat kota .

Situasi seperti ini membuat saya teringat dengan Jasmine, sahabat dari Amerika yang pernah mengendarai sepeda bututnya keliling dunia, termasuk di Indonesia . Di antara setir sepedanya, terdapat jerigen bensin yang bertuliskan, Not Oil! Seakan ingin mengatakan kepada kita: Tidak butuh minyak! Tidak membuat kemacetan! Juga tidak mengganggu udara, seperti layaknya kendaraan-kendaraan yang ada pada masa kini.”

Sayangnya, negara kita belum sampai ke tahap itu. Tahap dimana suatu kebijakan tidak membuat banyak dampak negatif terhadap alam dan masyarakat kecil.

Read more...

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP