Nenekku Penguasa Televisi
Cerpen Anton Bae
SEEKOR kupu-kupu jelmaan seorang lelaki terbang di halaman di sebuah rumah mewah. Dia mengibaskan sayapnya begitu kencang ke seorang dukun perempuan berjubah hitam. Ada sinar merah terlihat keluar dari kepakan sayapnya. Bunyinya mendesing-desing. Kupu-kupu itu ingin menyelamatkan gadis, yang merupakan kakak kandungnya yang menghilang selama satu minggu, kini tergeletak pingsan di halaman rumah itu. Hingga sepuluh menit berlalu, pertarungan itu akhirnya dimenangkan oleh kupu-kupu. Dukun perempuan itu mati, mayatnya berubah menjadi seekor babi.
Nenekku mengangguk-anggukkan kepala. Di atas kursi yang tidak jauh dari televisi itu aku meliriknya. Saat ibuku datang dari dapur, dia menjelaskan film yang ditontonnya. Tetapi matanya masih mengarah ke televisi. Dia bicara bahwasanya kupu-kupu itu menang, dia berhasil menyelamatkan pacarnya. Ibuku menggeleng-geleng kepala. Dia menjawab, sambil berteriak di dekat telinga nenek. "Iya!"
Nenekku yang tuli itu senang. Bibirnya tersungging. Dia meletakkan remote televisi di atas kasur yang sengaja diletakkan seandainya dia ketiduran ketika sedang menonton. Setelah itu, dia berjalan ke kamar mandi, mungkin buang air kecil.
Umur nenek menginjak delapan puluh tujuh tahun. Dia memakai kacamata plus. Giginya palsu. Kakinya tidak mampu lagi berjalan normal. Dia berjalan mengesot, dengan mengangkat tubuhnya sendiri perlahan-lahan dengan kedua tangannya. Kata orang itu adalah penyakit tua. Sayangnya, bila berjalan, nenek tidak mau dibantu, dia akan marah-marah. Mulutnya akan meracau. Alasannya, dia tidak mau merepotkan kami. Apalagi pakai kursi roda, rumit, dan mengganggu orang lain.
Memang, sejak ditinggal kakek, nenek selalu berjuang sendiri. Dia tidak mau dibantu orang lain. Dia membesarkan dan menyekolahkan tujuh orang anaknya, dengan tenaganya sendiri, dengan berjualan cabe di pasar yang kini telah digusur untuk pembangunan rumah-rumah toko dan hotel di dusun kami. Tapi, sejak penggusuran itu, nenek tidak lagi berjualan. Ditambahlagi ibu dan saudara-saudaranya juga sudah mampu menghidupi dirinya sendiri. Bahkan, ibu juga telah mampu untuk mengurus kehidupan nenek.
Sementara kakek lima puluh tiga tahun telah meninggalkan nenek. Dia pejuang veteran yang meninggal karena sakit jantung. Bila akhir bulan, dibantu ibuku, nenek akan pulang ke dusun hanya untuk mengambil gaji kakek. Biasanya, di atas kasurnya, di balik pintu kamar, diam-diam nenek akan menghitung pelan-pelan gaji kakek. Suatu hari pernah nenek berkata kepadaku dengan nada memelas. "Kakek cuma meninggalkan gaji sebesar delapan ratus ribu rupiah untuk nenek."
Sejujurnya, aku tidak pernah peduli dengan urusan gaji per bulan kakek, karena bagiku uang delapan ratus ribu rupiah sudah cukup besar untuk kehidupan nenek sendiri. Tapi bila terlalu jauh dipikirkan, Bagaimana nenek bisa menyekolahkan dan menghidupi tujuh orang anaknya?
"Ini salah kakek, ingin jadi pejuang Indonesia. Harusnya kakek menjadi pedagang atau menjadi petani. Minimal, mungkin saat ini kita telah memiliki ribuan hektar sawah atau kebun. Atau usaha yang besar."
"Kakek memang tidak berpikir soal ekonomi. Dia selalu mengataskan namakan pejuangan," jawab nenek.
"Inilah hasil dari nasionalisme kakek. Kehidupan anak-anak kakek dan nenek, akhirnya hanya sebatas menjadi pegawai negeri biasa, tentara, dan pegawai swasta."
Ketika mendengar jawaban itu, nenek langsung mengumpat. Dia melemparkan bantal guling melepaskan kemarahannya. Tetapi aku sudah berlari menjauhinya.
Itu cerita dulu ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sekarang aku sudah sarjana yang berkeinginan menjadi seorang pejabat di Dewan Perwakilan Rakyat.
***
TIBA-tiba nenek menangis di depan televisi. Suaranya menyebar kemana-mana. Aku tidak tahan. Sebagai sarjana aku tidak pernah mempelajari bagaimana rumus dan teori untuk meredakan tangis seorang nenek-nenek. Apalagi menangis di hadapan televisi. Tidak ada cerita penggusuran, bencana alam, korupsi, atau apalah yang merumitkan. Hanya sebuah cerita keluarga; seorang perempuan yang melamun di tengah pasar akibat suaminya selingkuh.
Tapi nenek kenapa menangis?
Air matanya turun, seolah drama itu pernah menjadi bagian hidupnya. Seolah telinganya yang tuli itu, mampu menerjemahkan tiap-tiap kata yang bergerak cepat, dan tidak berulang-ulang itu.
Nenek biasanya terlalu mendramatisir. Seakan-akan dia sedang mengajak kami untuk menonton bersamanya, dan dia akan menjelaskan cerita yang seringkali salah pengertian. Dia akan membiarkan kami terpaku, lalu duduk bersamanya, memijit-mijit kakinya, sambil bercerita bahwa dia ingin menyusul kakek ke surga.
Tapi hari ini tidak seperti hari-hari kemarin. Sekejap saja tingkah laku seseorang dapat berubah. Sesuatu yang tidak ada menjadi ada, yang mustahil menjadi tidak mustahil, dan yang tidak bermasalah menjadi bermasalah.
Nenek tidak henti-henti menangis, membuat kaca matanya berlinang. Dia tidak bicara kakek. Dia tidak bicara apa-apa. Hanya perempuan di televisi itu. Dia bicara nasib. Dia bicara kegundahan perempuan di televisi itu. Entahlah.
Ibu yang sedang menyetrika pakaian di dalam kamar mendekatinya. Ibu tersenyum mengedipkan mata ke arah adikku. Tapi nenek terlihat cuek. Dia mengangkat tubuhnya. Meletakkan remote televisi yang selalu dia peluk-peluk itu ke atas kasur. Dia mengesot menuju kamarnya. Dia merenung. Dia membuat seisi rumah bingung.
Di dalam kamar, ibu dan adik perempuanku mendekatinya. Pertanyaan demi pertanyaan dikeluarkan sebagai tanda perhatian. Nenek menjawabnya dengan datar, membuat ibu dan adikku kesal, menggerutu keluar kamar.
Aku bertanya, ibu tidak menjawab. Dia malah menyuruhku bertanya sendiri dengan nenek. Aku pun mengikutinya.
"Ada apa, nek?"
Perempuan tua itu melepaskan kacamatanya. Dia melihat ke arahku. "Seandainya nenek bisa menjadi kupu-kupu yang bisa terbang, menyelamatkan perempuan yang jualan di pasar itu," katanya.
Lampung, 2008.
