Thursday, April 28, 2011

Motif Hias Tumpal 4000 Tahun di Sumsel


Oleh: ANTON BAE

Tumpal merupakan salah satu jenis ragam hias geometris yang berbentuk bidang segitiga. Mengalami penyebaran yang merata ke seluruh dunia, baik yang diterapkan pada bagian arsitektur, tekstil, maupun anyaman. Dalam sejarah perkembangannya, motif hias tumpal sudah ada sejak masa prasejarah hingga sekarang.

Pada masa pra-sejarah sampai masa klasik, motif hias tumpal memiliki fungsi magis atau bermakna simbolik, sesuai konsep kesatuan kosmos, mikrokosmos (manusia), makrokosmos (semesta), dan metakosmos (alam ‘lain’), atau dapat juga dikatakan sebagai penggambaran dari yang bersifat imanen atau keduniaan menuju kepada yang transenden atau ketuhanan. Sementara di masa sekarang, motif hias tumpal pada umumnya telah beralih fungsi, yang semula magis-simbolik, kini lebih untuk memenuhi rasa keindahanan sesuai fungsinya sebagai satu dari sekian banyak ragam hias.

Dalam sejarah panjangnya, motif hias tumpal dapat ditemukan atau dijumpai di setiap kebudayaan etnik yang ada di mana pun. Bentuk dasarnya geometris – mulanya segitiga – kemudian mengalami banyak stilirisasi atau penggubahan baik berpadu dengan bentuk stilir-stilir flora maupun fauna, atau gabungan dari keduanya.

Untuk Sumatera Selatan, berdasarkan hasil penelitian Erwan Suryanegara tentang Ragam Hias di Sumatera Selatan – motif hias tumpal ditemukan pada salah satu artefak megalitik berupa menhir, tepatnya berada di Situs Karang Dalam, di dusun Karang Dalam kabupaten Lahat. Menhir megalitik itu oleh masyarakat setempat dikenal atau sering disebut dengan Batu Aji.

Berdasarkan penelitian ragam hias tersebut, diperkirakan bahwa motif tumpal yang ada di dusun Karang Dalam merupakan motif tumpal yang tertua, usianya kurang lebih 4000 tahun, berasal dari tradisi megalitikum di Dataran Tinggi Pasemah.

Bila dibandingkan dengan tumpal yang ada di kebudayaan masyarakat di nusantara, motif hias tumpal di Sumatera Selatan sudah jelas asal keberadaaanya.

“Ada kemungkinan, motif hias tumpal yang ada di situs Karang Dalam itu merupakan awal atau menjadi cikal bakal dari motif hias tumpal yang ada di nusantara,” kata Erwan Suryanegara. “Kemudian, setelah masuknya pengaruh kebudayaan Hindu, Budha, Islam, dan Nasrani ke nusantara hingga sekarang, motif hias tumpal ini terus mengalami perkembangan.“

Perkembangan motif hias tumpal di Sumatera Selatan ini, banyak dilihat dari penerapan pada bagian-bagian arsitektur, seperti rumah-rumah adat, masjid, dan nisan. Selain itu, pada kain tenun, motif hias tumpal juga banyak diterapkan, terutama pada bagian pinggir atau ujung kain, contohnya seperti yang dapat kita jumpai pada tenunan songket, batik, dan kain tajung.

Sementara untuk perabot rumah tangga, motif hias tumpal dapat juga dijumpai, seperti pada kerajinan meubel ukir lakuer, kerajinan anyaman tikar purun, rotan, dan bambu. Bahkan, untuk karya-karya arsitektur modern saat ini, motif hias tumpal tetap dipergunakan, dan dapat dijumpai pada bagian-bagian tertentu khususnya banyak diterapkan pada tiang (pilar) dari bangunan-bangunan yang sudah menggunakan cor beton bertulang, seperti pada rumah bertingkat, hotel berbintang, gedung perkantoran, gapura jalan, dan sebagainya. [*]

(Tulisan ini telah dipublikasikan di Dapunta.com)

| Blogilicious Kito Palembang || Idblognetwork Pilar Blogger |

0 komentar: