Sunday, August 3, 2008

Manusia dan Bebek Membuat Cerita Pendek




Oleh Anton Bae

SEANDAINYA bebek bisa menulis cerita pendek, barangkali dia akan lebih paham daripada kita mengenai rasanya tidur di dalam kandang, cara mengapung di atas sungai, atau bagaimana pikirannya ketika dia menghirup air parit. Sayangnya, tidak seperti Gus Dur yang memiliki juru tulis untuk menuliskan buah pikirannya, bebek cuma bisa berkwek. Dia tidak punya keinginan untuk menjadi Helvy Tiana Rosa. Dia tidak punya harapan untuk menjadi lebih ulet dari seorang novelis Budi Darma. Dia hanya bisa tidur, bercerita, mencari makan, dan membersihkan dirinya ketika dia bosan dengan kotoran di tubuhnya.
Sebenarnya, bebek punya berjuta-juta cerita pendek. Dalam satu hari, dia dapat mengolah puluhan cerita pendek yang mungkin dapat mengalahkan jumlah produksi teh di Gunung Dempo Sumatera Selatan, atau teh di PTP Nusantara VIII Kebun Gunung Mas, Bogor, sekalipun hanya dengan kata "Kwek". Akan tetapi, pertanyaannya, kemana cerita-cerita pendek itu?

Jawabannya hanyalah angin kosong. Kenapa? Sebab cerita pendek bebek hanya dimengerti oleh kalangan bebek. Dan bebek, tidak pernah menuliskan cerita-cerita itu, agar bisa diterjemahkan dan dinikmati oleh mahluk sebangsanya dan manusia-manusia di sekelilingnya.

Bagaimana dengan manusia?

Mengutip ucapan Putu Wijaya, dalam pertemuan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) XII di Bogor, 28 Juli-29 Agustus 2008, manusia juga seperti itu, sama dengan bebek. Setiap hari dia membuat cerita pendek. Setiap hari dia bergelut, mengumbar, merangkai cerita pendek. "Dokter membuat cerita pendek. Pedagang membuat cerita pendek. Kita semua membuat cerita pendek," kata Putu.

Tidak ada yang tidak bisa membuat cerita pendek. Hari ini pun kita sedang membuatnya.



| Blogilicious Kito Palembang || Idblognetwork Pilar Blogger |

1 komentar:

uchan said...

kalo manusia mengambil istilah bebek dengan ungkapan:

"Jangan cuma bisa membebek"