““Wahai handukku yang manis…. Ayo! Ayo! Cepat! Keringkan tubuhku yang basah! Bersihkan semua daki-daki yang ada di tubuh ini. Ayo! Cepat! Hisaplah semua air! Telanlah! Jangan sampai tubuh ini berlendir seperti enceng gondok, atau kusam seperti negara kita.
Dia menggosok-gosok terus tubuhnya dengan handuk berwarna putih itu. Kedua tangannya naik turun di atas jeramba di tepian sungai itu. Cahaya senja menggilas tubuhnya yang coklat. Beberapa perahu tampak terayun-ayun mengikuti gelombang air. Rumah-rumah panggung yang berjejer bagai puluhan perempuan yang berebut menyuci di pinggir sungai. Oh.
Oh, Dia seperti baru jatuh cinta. Dia begitu menikmati menggosok handuk itu, entah di punggungnya, lehernya, ketiaknya, rambutnya, selangkangannya, kakinya, wajahnya. Dia begitu menikmatinya. Sampai-sampai dia tidak menyadari kalau handuk yang putih itu dalam waktu yang singkat kini menjadi coklat kehitam-hitaman oleh dakinya. Hingga melarlah handuk itu. Melar.

Mami! Oh mami! Negeri apa ini?
terjepit
dihimpit
digigit
dicibit
dipingit
Aku, aku, aku menjerit sempit
dimana kamu

dimana dia
dimana tuhan
dimana mata airmu
ku tak melihat
waahh!
| Blogilicious Kito Palembang || Idblognetwork Pilar Blogger |
1 komentar:
kak...
eko minta no hpnya
Post a Comment